KIAN SANTANG: PENYEJUK HATI DI MASA PANDEMI

Pertunjukkan "Hutbah Munggaran di Pajajaran", Hisdagra, sutradara Ari Kpin

KIAN SANTANG: PENYEJUK HATI DI MASA PANDEMI

oleh Rizky Muhamad Ridwan


Hutbah Munggaran di Pajajaran


Jagat Pentas Padepokan Sobarnas Martawijaya diubah sedemikian rupa sebagai pertunjukan drama “Hutbah Munggaran di Pajajaran Posstheatron”. Disutradarai oleh Ari Kpin dengan naskah karya Yus Rusyana. Ari KPIN dikenal sebagai penggiat seni, komposer, instruktur musik, penulis buku Musikalisasi Puisi (Tuntunan dan Pembelajaran), pemain dan anggota Indonesian Phillharmonic Orchestra (1999-2004), pencipta lagu Mars & Hymne Politeknik Negeri Bandung sekaligus ahli KGF (2007-sekarang). Penulis naskah Yus Rusyana yang tidak diragukan lagi dalam kesusastraan Indonesia. Lahir dari kebudayaan tradisi lisan sampai akhirnya melahirkan karya puisi dan drama. Oky Lasminingrat yang juga sebagai penyair puisi dengan penggalan kalimat bermakna “Pulang Ke Kampung Tradisi, Menggali Tradisi Melahirkan Puisi”. Penata Gerak (Wanda Kania), Penata Laga (Bah Tira), Para pemain drama antara lain, Kian Santang (Deden Falah), Jaya Antea (Ari Kpin), Purnama Sari (Oky Lasminingrat), Rajah (Wa Ratno), Bagus Setra (Irvan Budiansyah), Salahudin (Yadi Kurniadi) Ki Lengser (Asep Zaenal Mutaqien), Rakean (Fajar Bintang), Kalang Sunda (Miftah Mubarok), Prajurit Pajajaran dan Wadya Balad Kian Santang (Dimas, Abdul Azis, M. Arsy, Irpan Gori, Fauz, I M. Alif, Yudistira, Shenita, Eva, Aji Lingga, Shantia, Erik, Djohan, Faris FM, Jidan, Dani, Sep Hilmi, Errival, Ikbal M, Risdan), Penata Musik (Panji Triaji), Pemusik (Panji Triyadi, Sri Ningsih, Usman Nurjaman, Jang Lana, Zidhan, Tiful Dimas, Didi Setiadi, Tizar, Nuryana, Nurhayat). Tim Video Studio Seni Proklamasi (Icang S Tisnamiharja, Muhammad Iqbal, Rusdi Hidayat, Ijay Zanarsyah). 


Bertempat di Jalan Raya Cipanas, Kp. Tegalsari, Ds. Langensari RT 004 RW 004 Tarogong Kaler Garut. Drama digelar pada tanggal 24-26 Oktober 2020 Drama Sunda yang ditulis pada tahun 50-an, kemudian sempat hilang sekitar 50 tahun. Pada tahun 2015 ditemukan kembali dan diketik ulang untuk diperbaiki ejaannya. Drama “Hutbah Munggaran di Pajajaran” ditargetkan pemerintah agar nilai-nilai kesenian dan kebudayaan dapat menjadi soft diplomacy dan soft power. Agar terbentuknya pengetahuan yang disalurkan antara pelaku kesenian dan kebudayaan dengan masyarakat luas sebagai pertunjukkan kreatif, inovatif. Diharapkan semakin tumbuhnya minat generasi muda pada budaya untuk diekplorasi sesuai dengan semangat zaman. Dengan tujuan memberikan alternatif wacana terkait Kian Santang dan Raja Pajajaran, melestarikan budaya dan bahasa Sunda dan menciptakan pertunjukkan yang berkarakter. Drama ini memperlihatkan keinginan Kian Santang untuk mengislamkan Pajajaran, termasuk ayahnya sendiri, Prabu Siliwangi. Meskipun Kian Santang harus perang dengan ayahnya sendiri, karena Kian Santang memiliki pandangan bahwa Pajajaran akan jaya dengan dianutnya agama Islam. 


Drama yang penting untuk dipentaskan karena menggabungkan sejarah, dongeng dan babad tentang Kian Santang yang menyebarkan agama islam di Pajajaran dengan bahasa Sunda klasik. Penting untuk diketahui masyarakat luas ada sudut pandang lain tentang kerajaan Pajajaran dengan islam, sesuai pengalaman panjang Yus Rusyana dalam meriset cerita tutur di Jawa Barat. Drama ini menyajikan gaya tutur bahasa Sunda klasik sebagai kendaraan komunikasinya. Jarak komunikasi antara pertunjukkan dengan apresiator akan terbentuk, apalagi masyarakat yang tidak lahir di tanah Sunda atau belum belajar bahasa Sunda pasti kesulitan dalam menafsirkan keseluruhan pertunjukan drama. Namun Ari Kpin sebagai sutradara mempunyai strategi dalam mengolah visual, video mapping dan keterampilan pencak silat dalam pertunjukkan ini. Hal tersebut penting dilakukan sebagai jembatan komunikasi antara pertunjukkan dan apresiator dalam memahami alur dan pengaluran dalam drama tersebut.


Kisah berlangsung ketika seorang cenayang yang sedang menyiapkan sesajen sebagai pengantar dan meminta izin sebagai bagian dari kesopanan, kerendah hatian, harapan sekaligus perlindungan. Adegan pertama ketika kumpulan prajurit yang berkelahi dengan menggabungkan keterampilan pencak silat. Bagaimana salah satu prajurit yang marah akan peperangan yang masih berlangsung saat itu. Kedatangan tokoh Ki Lengser sebagai jawaban atas pertanyaan dari pada prajurit tersebut. Tata rias yang diaplikasikan menambah kesan tua karena perannya sebagai Ki Lengser. Ia menjelaskan kepulangan Prabu Anom Kian Santang Aria Cakrabuana dari tanah sabrang. Pada adegan selanjutnya terdapat sekumpulan prajurit Wadya Balad yang melantunkan huruf hijaiyah yang diiringi tarian dan musik. Adegan tersebut menjadi hiburan sekaligus relaksasi dari ketegangan pada adegan sebelumnya mengenai isi tetesan yang disampaikan oleh Ki Lengser. 


Kemudian Kian Santang muncul bersama Salahudin untuk membacakan tetesan yang berisi ajakan bagi kerajaan Pajajaran untuk masuk islam. Latar yang ditampilkan berada di negeri seberang (Arab) alur campuran menjadi pilihan sutradara dalam pementasan drama ini. Sudah terlihat ketika Ki Lengser membacakan tetesan Kian Santang yang kemudian berganti adegan ketika Kian Santang bersama Salahudin dan Jaya Antea. Dalam menyampaikan tetesan tersebut, iringan instrumen kecapi ikut menambah kesan berwibawa yang dibacakan oleh Kian Santang. Kostum yang dipakai Kian Santang memberi ciri khas tersendiri komplit dengan penutup kepala yang mengelilingi kepala Kian Santang. Pengaplikasian tata rias yang sederhana yang ikut memperjelas kerut wajah alami tokoh. Penggunaan pencahayaan yang kurang maksimal terlihat pada adegan Jaya Antea bersama kedua prajurit Wadya Balad yang sedang berdialog. Ketiga tokoh tersebut seakan hanya siluet dan suaranya saja yang terdengar. Faktor pemain juga seakan belum maksimal dalam mengetahui posisi pencahayaan yang dipancarkan dari bagian atas panggung. Penggunaan pencahayaan tunggal yang menyoroti tokoh Jaya Antea membuat kesan dramatis makin terasa diiringi dengan prolog yang disampaikannya. 


Kostum yang digunakan tokoh Jaya Antea sangat merepresentasikan kehidupan kerajaan dengan penggunaan atribut dan tameng berlogo burung garuda pada bagian dada tokoh. Penggunaan tata rias ikut mempertegas wajah tokoh dengan mempertebal alis dan kumis tokoh Jaya Antea. Pada adegan selanjutnya tokoh Purnama Sari dan Bagus Setra muncul bersama semua prajurit Pajajaran. Pengaplikasian tata rias pada tokoh Purnama Sari menambah kesan wajah yang lebih muda dari umur aslinya. Prajurit tersebut kemudian saling berkelahi dengan Wadya Balad. Tokoh Rakean muncul bersama Purnama Sari dan Bagus Setra. Rakean terlihat berwibawa dengan pakaian yang dikenakannya dengan postur tubuh yang tegap dan kepalan tangan ikut menambah kesan berani. Kesatuan antara instrumen musik, gerakan tokoh dan pencahayaan menjadi daya tarik dan menambah kesan estetik dalam pertunjukkan drama yang berlangsung. 


Konflik mulai dimunculkan ketika tokoh Rakean yang bertemu dengan Jaya Antea yang mengajak Rakean untuk masuk ke dalam agama yang dianut Jaya Antea. Rakean langsung menolak ajakan tersebut dengan kekesalan dan kedua tokoh tersebut berkelahi, namun Rakean akhirnya menghilang entah kemana. Tujuan dari datangnya Jaya Antea ikut memperjelas kehadiranya untuk merebut kekuasaan kerajaan Pajajaran. Konflik sedikit diredam pada adegan berikutnya yaitu kemunculan Purnama Sari dan Bagus Setra yang membahas mengenai musuh Pajajaran. Penghayatan Purnama Sari yang berdialog dengan Bagus Setra menambah kesan dramatis pada cara penyampaiannya. Penggunaan pencahayaan pada adegan ini terlihat bervariasi dengan pola yang dibuat sedemikian rupa. Terdapat warna merah, biru dan kuning dengan fokus pencahayaan pada masing-masing tokoh. Konflik Kembali dimunculkan ketika Rakean datang dan memberitahu kedatangan Jaya Antea yang membuat Purnama Sari dan Bagus Setra bertanya-tanya akan hal tersebut.


Pada adegan selanjutnya, ketiga tokoh yaitu Kian Santang, Jaya Antea dan Salahudin saling bertemu dengan diiringi instrumen yang terdengar cukup menegangkan. Gelagat ketiga tokoh tersebut menambah kesan keserasian dengan instrumen yang dimainkan. Kian Santang menampilkan sikap tegasnya kepada prajurit Wadya Balad yang mempertanyakan pelaku peperangan yang membuat kerusuhan dan kerusakan. Olah suara yang diucapkan tokoh Kian Santang sangat pas memerankan tokoh tersebut yang menambah kewibawaan dan kepemimpinan yang sudah seharusnya ditonjolkan dalam drama tersebut. Penggambaran tokoh Jaya Antea yang berkhianat terlihat tergesa-gesa dan cenderung tiba-tiba dengan konflik ketika Jaya Antea menyerang tokoh Gori yang dituduh sebagai perusak pada saat peperangan. 


Konflik yang ditampilkan kurang membuat audiens merasa terkejut atas perlakuan Jaya Antea. Namun konflik tersebut terasa ketika tokoh Gori memberitahu dalang dibalik itu semua adalah Jaya Antea dengan berteriak dengan nada bicara yang serak dan tegas. Konflik selanjutnya tidak digambarkan atas pernyataan tokoh Gori dan Kian Santang langsung percaya akan hal tersebut. Begitupun tokoh Jaya Antea yang tiba-tiba mengaku atas perbuatanya. Namun Jaya Anten menyakinkan prajurit Wadya Balad kalau ia sudah ditipu oleh panglimanya dan menyebut Kian Santang sebagai anak musuhnya. Keduanya menyerang satu sama lain, namun gerakan keduanya terlihat kaku dan kurang bertenaga yang seharusnya menjadi puncak konflik atau klimaks dari drama tersebut. Hal ini terjadi karena penata gerak lebih memilih konsep koreografi tari daripada gerakan pencak silat yang realis. Hal ini memang menyatu dengan konsep drama pada pementasan ini secara keseluruhan yang mengedepankan unsur seni drama, tari, dan musik (sendratasik). Kian Santang lantas tidak membunuh Jaya Antea karena yang berhak atas penghakiman adalah Allah bukan Kian Santang. 


Tata panggung dan pertunjukan yang disuguhkan terkesan menyatu dengan audiens dengan memanfaatkannya tempat pertunjukan yang berbeda dengan pertunjukan yang ada. Membuat audiens seolah-olah ikut menjadi bagian dari kerajaan Pajajaran. Panggung yang dibuat terlihat sederhana dengan memanfaatkan kain putih dan karpet tipis sebagai alas pertunjukkan. Pergulatan dan konflik yang muncul seakan bebas untuk dipertunjukkan dengan pencahayaan yang ikut hadir di tengah-tengah audiens yang menjadi bagian dari tata panggung pertunjukan. Ketika prajurit-prajurit tersebut menghadap Kian Santang, tangan mereka sudah dalam keadaan diikat. Kian Santang pun memerintahkan prajurit Wadya Balad untuk melepaskan ikatan tersebut dan salah satu prajurit menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Kian Santang. Namun ketika salah satu prajurit Pajajaran yang menyampaikan rasa terima kasihnya, pencahayaan tidak difokuskan kepada prajurit tersebut, padahal dialog yang disampaikan cukup panjang dan merupakan bagian yang penting. Pertunjukan ditutup dengan Kian Santang selaku panglima perang mengislamkan prajurit Pajajaran dengan mengucapkan dua kalimat syahadat yang kemudian diikuti oleh prajurit-prajurit Pajajaran untuk berpegang teguh pada jalanya Allah SWT.

Komentar